GENI MOTA MATI, KYAI MALAH NGIRIM LAUK

Kisah Kocak Santri, Tungku Rewel, dan Kebaikan Simbah Kyai (Kisah nyata sekitar tahun 1990-an)

Malam itu, sekitar pukul 21.00 WIB setalah kgiatan musyawah bersama. Suasana pondok mulai sepi. Hujan rintik-rintik turun membasahi halaman. Udara dingin menusuk, sementara di dapur pondok tampak beberapa santri masih sibuk menyiapkan makan malam.

Namanya juga santri, urusan perut tetap harus diperjuangkan. 😄

Malam itu seorang santri sedang memasak menggunakan tungku berbahan grajen. Namun sayangnya, si tungku sepertinya sedang tidak bersahabat.

Api bukannya menyala, malah mota-mati.

Dikipasi berkali-kali, ditiup, ditambah grajen, bahkan mungkin kalau bisa diajak musyawarah sudah diajak musyawarah.

Tapi tetap saja:

“Mati… urip… mati maneh.”

Sementara sayuran dan lauk pun tidak tersedia. Aktivitas masak pun tetap dilaksanakan demi menjaga perut agar tetap terisi.

Di tengah kesibukan santri menghadapi tungku yang keras kepala itu, tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara seseorang.

“Nembe masak, Kang?”

Karena jaraknya agak jauh dan suasana malam cukup gelap, sang santri tidak begitu memperhatikan siapa yang bertanya.

Dengan spontan, polos, dan tanpa basa-basi, santri menjawab:

“Iyo… Ngopo takok-takok? Geni mota mati, sayuran ga duwe, malah tekok-tekok. Meh ntrambul po?”

Terjemahan bebasnya kurang lebih:

“Iya, kenapa tanya-tanya? Apinya susah nyala, sayuran juga tidak punya, malah tanya-tanya. Mau ikut nimbrung, ya?” 😅

Orang yang bertanya tadi hanya diam.

Tidak ada perdebatan.

Tidak ada teguran.

Tidak ada ceramah panjang.

Sang santri pun kembali fokus menghadapi tungkunya.

Ia sama sekali tidak sadar bahwa orang yang baru saja dia jawab dengan gaya “sangar tapi polos” itu adalah Simbah Kyai, pengasuh pondoknya sendiri, yang setiap malam rutin keliling mengitari semua area pondok.

Sepuluh Menit Kemudian…

Kurang lebih sepuluh menit berlalu.

Tiba-tiba Simbah Kyai datang kembali ke dapur.

Kali ini tidak sendirian.

Di tangan beliau sudah ada sayur dan lauk yang telah matang.

Dengan santai, beliau menyerahkan makanan tersebut kepada santri tadi sambil berkata:

“Niki, Kang. Kulo paringi sayur lan lauk, saget damel lawuh.”

(“Ini, Kang. Saya kasih sayur dan lauk, bisa untuk lauk makan.”)

Seketika santri tersebut terdiam.

Matanya mungkin langsung membesar.

Hatinya berdebar.

Baru saat itulah ia sadar:

“Lho… sing tak jawab mau ternyata Simbah Kyai?!”

😳

Kalau tadi api tungku yang susah menyala, kini wajah sang santri yang justru terasa panas membara.

Rasa malu bercampur takut yang sangat luar biasa.

Ingin rasanya masuk ke dalam tungku sekalian, lalu bersembunyi di balik grajen.

Dengan kepala menunduk, santri itu akhirnya menerima pemberian Simbah Kyai.

Dalam hati mungkin hanya bisa berkata:

“Ya Allah… kok malah dikasih sayur lan lauk. Padahal mau aku jawab sembarangan…”

Pelajaran di Balik Tawa

Kisah sederhana ini memang mengundang senyum.

Namun di balik kelucuannya, ada keteladanan yang luar biasa.

Simbah Kyai tidak membalas ucapan santri dengan kemarahan. Beliau justru membalasnya dengan kebaikan.

Santri mungkin sedang kesusahan menyalakan api, tetapi malam itu justru mendapatkan “api keteladanan” dari seorang guru: bahwa menghadapi kepolosan santri tidak harus dengan marah, tetapi bisa dengan kesabaran, kasih sayang, dan memberi contoh secara langsung.

Barangkali inilah salah satu indahnya kehidupan pesantren.

Kadang santri salah ngomong, kyai tidak langsung marah.

Kadang tungku tidak mau menyala, tetapi rezeki malah datang.

Dan terkadang…

yang hampir “ntrambul” bukan orangnya, tetapi justru perutnya yang hampir keroncongan. 😄

Semoga kisah kecil ini menjadi pengingat bahwa hubungan kyai dan santri bukan sekadar hubungan guru dan murid, tetapi juga penuh kasih sayang, guyon, keteladanan, dan keberkahan.

Geni mota mati, sayur ora duwe…
eh, malah kyai rawuh nggawa lawuh.

Begitulah berkahnya menjadi santri.
Kadang mulutnya spontan, tetapi rezekinya tetap datang. 😊

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *