GENI MOTA MATI, KYAI MALAH NGIRIM LAUK

Kisah Kocak Santri, Tungku Rewel, dan Kebaikan Simbah Kyai (Kisah nyata sekitar tahun 1990-an)

Malam itu, sekitar pukul 21.00 WIB setalah kgiatan musyawah bersama. Suasana pondok mulai sepi. Hujan rintik-rintik turun membasahi halaman. Udara dingin menusuk, sementara di dapur pondok tampak beberapa santri masih sibuk menyiapkan makan malam.

Namanya juga santri, urusan perut tetap harus diperjuangkan. 😄

Malam itu seorang santri sedang memasak menggunakan tungku berbahan grajen. Namun sayangnya, si tungku sepertinya sedang tidak bersahabat.

Api bukannya menyala, malah mota-mati.

Dikipasi berkali-kali, ditiup, ditambah grajen, bahkan mungkin kalau bisa diajak musyawarah sudah diajak musyawarah.

Tapi tetap saja:

Baca selengkapnya

Sebatang Rokok Pembawa Petaka

Latar: Teras depan masjid Ngetuk. Waktu menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Suasana gelap gulita karena sedang mati lampu (pemadaman bergilir). Suara jangkrik terdengar bersahutan.

Karakter:

  • Kang Qowim: Santri senior yang sedang suntuk, kehabisan rokok, dan kebetulan lupa bawa korek.
  • Abah Ali (Pak Yai): Pengasuh pondok yang kebetulan sedang inspeksi malam sambil bersantai mencari angin.

(Panggung gelap. Hanya ada satu titik cahaya kecil berwarna merah menyala-nyala di pojok teras masjid. Itu adalah ujung rokok yang sedang dihisap oleh seseorang yang duduk bersila di tempat gelap. Orang itu adalah Abah Ali, memakai sarung dan peci hitam, bahunya tertutup sorban.)

(Kang Qowim masuk ke panggung sambil meraba-raba tembok. Sarungnya diikat asal-asalan. Ia berjalan mengendap-endap dan matanya tertuju pada cahaya merah rokok tersebut.)

Baca selengkapnya