Biografi Singkat KH. Ibrohim

Kyai Haji Ibrahim Adalah salah satu murid dari KH. Syarqowi, lahir di Dusun Ngetuk desa Tanggungharjo, Sarlan Adalah nama kecil, maka tak heran diwilayah Kab. Demak lebih terkenal dengan panggilan Kiyai Sarlan, Beliau putra dari pasangan Simbah Nuriman asal dari Dusun Krajan desa Tanggungharjo dengan mbah nyai Maryam binti Doraja asal Dusun ngetuk. Beliau adalah putra pertama dari pasangan tersebut.
Masa remaja beliau banyak digunakan membantu ibu beliau, dikeranakan Simbah Nuriman wafat disaat beliau masih remaja dan adik-adik yang masih kecil. Sebagai putra tertua, maka secara otomatis beliau menjadi kepala keluarga, menggantikan ayah beliau.
Di sela-sela waktu kesbukan beliau, terutama malam hari beliau banyak belajar ilmu-ilmu sihir kadigdayan dan kanuragan hal ini digunakan untuk bekal perjuangan melawan penjajahan Belanda. menurut beliau ilmu sihir waktu itu sangat dibutuhkan bagi kalangan para pejuang, dan kebetulan pada zaman tersebut banyak guru-guru ilmu sihir yang menawarkan ilmu-ilmunya kepada para pejuang.
Setelah bangsa Indonesia merdeka beliau kemudian belajar Kyai Haji sarkowi Krajan Tanggungharjo Grobogan juga Kyai Haji Asmawi Balungmiri Jragung Karangawen Demak, untuk belajar dan memperdalam Ilmu Thoriqoh. Sebelum belajar Ilmu Thoriqoh, semua pantangan-pantangan ilmu sihir dilakukan dengan maksud agar seluruh kesaktian ilmu sihir hilang dan tidak melekat di dalam jiwa.
Namun setelah beliau menekuni ilmu thoriqoh dengan banyak ber-Suluk, ternyata karomah-karomah banyak muncul, bahkan beberapa kemampuan Ilmu Sihir yang telah dibuang muncul kembali tapi dengan Kalimah la Ilaha illa Allah. Dan inilah yang mempermudah beliau dalam berdakwah di masyarakat.
Di tahun 1958 beliau memprakarsai pembangunan Masjid di dusun Ngetuk wilayah Ranting NU Tanggungharjo. Hal ini didasarkan semakin banyaknnya masyarakat yang sudah mau menjalanakan Ibadah sholat. Dan dusun Ngetuk sudah layak mendirikan masjid sendiri, sehingga masyarakat tidak perlu lagi mengikuti lagi jama’ah sholat Jum’at di masjid Krajan Tanggungharjo Atau masjid desa Brabo.
Metode Dakwah
Zaman dahulu ada pepatah/parikan yang mashur dikalangan masyarakat sekitar Tanggungharjo, yang dikhususkan hanya bagi masyarakat dusun Ngetuk ”Ngetuk nanggap wayang sikil blutuk ora sembahyang” . pepatah/parikan tersebut memang menggambarkan kondisi real masyarakat didusun Ngetuk.
Dalam berdakwah beliau tidak menekankan sistem pengajian, hal ini dikarenakan pada dasarnya beliau bukanlah sosok Alim yang mahir dan menguasai kitab-kitab kuning. Tapi beliau mengajak masyarakat untuk sholat dari rumah ke rumah dan hal itu dilakukan secara istiqomah. Bahkan hal ini juga dilakukan pada kalangan masyarakat yang gemar melakukan perjudian, disetiap arena judi beliau menunggu disamping arena, dan ketika waktunya sholat beliau ngajak sholat terlebih dulu, di dipersilahkan berjudi lagi setelah melakukan ibadah sholat. sehingga hal tersebut mampu merubah kebiasan para penjudi menjadi orang-orang yang rutin menjalankan sholat.
Hal yang juga biasa beliau lakukan dalam berdakwah terutama kalangan ekonomi lemah adalah melakukan Akad Paroan atau akad bagi hasil Kambing bagi masyarakat yang lemah terutama yang belum rutin melakukan ibadah Sholat. tujuan utama dalam menjalankan Akad Paroan kambing adalah berdakwah mengajak masyarakat untuk menjalankan ibadah sholat. yang lebih menarik, beliau tidak jarang melakukan sholat Dhuha dirumah orang yang diparoankan kambing.
Keberhasilan Dakwah KH. Ibrohim
Slogan pari’an ” Ngetuk Nanggap Wayang, Silkil Blutuk ora sembahyang” di masyarakat Dusun ngetuk sudah tidak berlaku, hal ini sebagai wujud hasil kerberhasilan dakwah beliau. hal ini dapat dilihat dari perubaha budaya dan simbol-simbol Islam yang kuat di dusun Ngetuk, dimana sekarang merupakan salah satu pusat pendidikan Islam. ada 3 (tiga) Pondok Pesantren dimana 2 diantaranya diasuh oleh putra-putri beliau. 2 (dua) Madrasah Diniyah, 3 (tiga) Taman Pendidikan Al-Qur’an, 24 Mushola.
KH. Ibrohim wafat pada Sabtu Legi 7 Maret 1998 Masehi atau 8 Dzulhijjah 1418 Hijiriyah pukul 16.00, dan di makamkan di pemakaman umum dusun Ngetuk Desa Tanggungharjo.
( ditulis oleh Sihabul Millah, Rois Syuriah Ranting NU Tanggungharjo, yang juga Cucu dari KH. Ibrohim berdasarkan penuturan langsung KH. Ibrohim di akhir hanyat beliau)