Biografi singkat K. Abdus Syukur
Kyai pertama masjid Almuttaqin Ngembel Lor Tanggungharjo
Kyai Abdus Syukur merupakan pendiri masjid Almuttaqin Ngembel Lor Tanggungharjo Grobogan, Putra dari Carik Sudarmo Brabo, Cucu dari Simbah K. Nur Ahmad, pembuka agama pertama Desa Brabo yang berasal dari Demak Bintoro, yg berkelana hingga Desa Brabo dan menikah di sana.
Saat remaja, beliau berguru kepada Hadzroutus syekh KH. Syarqowi Tanggung, Mursyid Agung Thoriqoh Naqsabandiyyah, satu kurun dengan K. Syamsuri Brabo. Setelah beranjak dewasa, K. Abdus Syukur menikah dengan nyai Sujinah, putri KH. Siroth karang pacing. Setelah menikah, mereka berdua diberi amanah oleh Syekh Syarqowi untuk mengembangkan agama di Dusun Ngembel Lor, tahun 1900 M.
Dari pernikahannya, mereka dikaruniai 7 putra putri, yaitu :
- Siti Maryam
- Muhroji
- Muspiah
- Supiyah
- Maesaroh
- Mashudi
- Ahmad Dimyathi
Dalam perjuangannya, K. Abdus Syukur mengajarkan agama untuk santri mukim dan nglaju. Beliau sangatlah Alim dalam menguasai kitab kuning. Diantara santri yg pernah mengaji sama beliau adalah :
- K. Sya’roni, Brabo
- K. Yuani Sajad, Sugihmanik
- Simbah Marjak ( besan beliau )
Dan masih banyak lagi. Para santri Pondok Pesantren K. Abdus Syukur banyak juga yg berasal dari berbagai daerah di sekitar kecamatan Tanggungharjo.
Dalam suasana pesantren yg mulai berkembang, K. Abdus Syukur ditinggal wafat oleh istri tercinta. Hal ini berpengaruh pada perkembngan perjuangan beliau. Pesantren pun meredup dan tidak lagi ada yg mukim. Namun untuk santri nglajo masih berlanjut dalam kegiatan kajian kitab kuning, sampai wafatnya beliau, tahun 1965.
Estafet kepemimpinan masjid diteruskan oleh putra keduanya, K. Muhroji. Kyai kedua masjid Almuttaqin ini berlangsung mulai tahun 1965 – 1973. Selama kurang lebih 11 tahun K. Muhroji mendampingi umat dalam memakmurkan masjid Almuttaqin Ngembel Lor. Setelah wafat, estafet diteruskan K. Fathurtohman, menantu pertama beliau asal gajah mati kedungjati, kakak kandung Simbah Kasran, ayah dari bekel Sukarno. Kepemimpinan K. Fathurtohman berlangsung dari tahun 1973 – 1975.
Putri ketiga K. Abdus Syukur, Nyai Muspiah, putri keempat, nyai Supiyah juga putri kelima, Nyai Maesaroh semuanya tinggal bersama suaminya masing-masing dan kebetulan berada pada satu desa yg sama, Dusun Cogeh, Desa Tlogorejo Kec. Karangawen Demak. Sedangkan putra Keenan , Mashudi wafat saat masih belia. Satu-satunya yang masih berada di Ngembel Lor adalah putra terakhir, K. Ahmad Dimyathi. Mulai tahun 1975, beliau meneruskan memimpin masjid Almuttaqin.
K. Ahmad Dimyathi Remaja adalah seorang Banser. Beliau menikah dengan Nyai Rusti, Putri Simbah Marjak. Dari pernikahan itu K. Dimyathi dikaruniai 8 orang putra putri. Yaitu :
- Sutianah ( wafat saat belia)
- Sugiarti, Istri K. Zaenudin Anshori
- Nur Hidayah, Istri Fathurtohman ( Banser Sugihmanik )
- Siti Halimah, Istri KH. Turmudzi Tanggung )
- Siti Khoiriyyah Istri Ali Asroni, Banser Mranggen
- Muhamad Khoironi, pengasuh ponpes. Nurul Qur’an Sugihmanik
- Siti Munawaroh, Istri Sunardi, Tanggung
- Muhlisin, GP Anshor Sugihmanik
Perjuangan K. Ahmad Dimyathi, relatif berkembang dalam hal kegiatan keagamaan di Ngembel Lor. Mulai merenofasi masjid hingga 2 kali, sampai membentuk jamaah Tahlil putra putri dan remaja.
- Jamaah Tahlil putri untuk kaum ibu diberi nama Al Hidayah. Berlangsung setiap malam Jumat.
- Jamaah Tahlil Al barokah, berlangsung setiap malam kamis
- Jamaah Tahlil Al-Ikhlas, berlangsung setiap malam Rabu
- Remaja putra Al-Amin adalah jamaah maulid putra yg berlangsung setiap malam Senin
- Jamaah maulid putri bernama AnNisa setiap malam Ahad
Kelima jamaah tersebut, masih eksis hingga saat ini kecuali AlAmin dan AnNisa.
Perjuangan beliau menjadi Imam berakhir hingga tgl 13 Januari 2004, saat sekelrga hijrah ke Sugihmanik. Dari tahun 1900 – 2004, selam kurun waktu 104 tahun K. Abdus Syukur memulai dakwah hingga diteruskan oleh dzuriyyahmya.
Perjuangan K. Ahmad Dimyathi berlanjut di wilayah Sugihmanik. Dengan didampingi putranya, Muhammad Khoironi, K. Ahmad Dimyathi meneruskan pesantren K. Abdus Syukur yang telah redup di Ngembel lor dibuka dan dikembangkan kembali oleh cucunya Muhammad Khoironi, pondok pesantren Nurul Qur’an.
Penulis,
M. Khoironi Dimyathi
Cucu K. Abdus Syukur
Pengasuh dan pendiri ponpes. Nurul Qur’an Sugihmanik