Sebatang Rokok Pembawa Petaka
Latar: Teras depan masjid Ngetuk. Waktu menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Suasana gelap gulita karena sedang mati lampu (pemadaman bergilir). Suara jangkrik terdengar bersahutan.
Karakter:
- Kang Qowim: Santri senior yang sedang suntuk, kehabisan rokok, dan kebetulan lupa bawa korek.
- Abah Ali (Pak Yai): Pengasuh pondok yang kebetulan sedang inspeksi malam sambil bersantai mencari angin.
(Panggung gelap. Hanya ada satu titik cahaya kecil berwarna merah menyala-nyala di pojok teras masjid. Itu adalah ujung rokok yang sedang dihisap oleh seseorang yang duduk bersila di tempat gelap. Orang itu adalah Abah Ali, memakai sarung dan peci hitam, bahunya tertutup sorban.)
(Kang Qowim masuk ke panggung sambil meraba-raba tembok. Sarungnya diikat asal-asalan. Ia berjalan mengendap-endap dan matanya tertuju pada cahaya merah rokok tersebut.)
Kang Qowim: (Berbisik dalam hati) “Alhamdulillah, ada santri yang lagi udud (ngerokok). Pucuk dicinta, rokok pun tiba.”
(Qowim mendekat ke arah bayangan hitam tersebut. Karena gelap total, ia tidak bisa melihat wajah orang di depannya.)
Kang Qowim: “Ssst… Kang! Assalamualaikum, Kang.”
Abah Ali: (Suara berat dan pelan) “Wa’alaikumsalam…”
Kang Qowim: (Langsung duduk bersila di sebelah Abah Ali dengan sok akrab) “Suntuk bener malam ini, Kang. Mati lampu pula. Ane Qowim, dari kamar Al-Ghozali. Ente kamar mana, Kang?”
Abah Ali: (Santai, menghisap rokoknya) “Saya… di bangunan depan situ.”
Kang Qowim: “Oh, pengurus ya? Pantesan malam-malam berani nongkrong di teras masjid. Eh Kang, bagi joinan rokoknya dong. Asem bener mulut ane, dari tadi habis setoran hafalan belum kena asep. Minta apinya sekalian ya, nyambung nih.”
(Tanpa banyak bicara, Abah Ali menyodorkan rokoknya yang masih menyala ke arah Qowim di dalam gelap.)
Kang Qowim: “Nah, suwun (terima kasih) ya, Kang.”
(Qowim menempelkan ujung rokoknya ke ujung rokok Abah Ali. Terang sedikit menyinari wajah Qowim, tapi wajah Abah Ali tertutup bayangan sorban.)
Kang Qowim: (Menyedot rokoknya dalam-dalam, lalu menghembuskan asap) “Haaah… nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan. Eh gila, rokok ente Dji Sam Soe, Kang? Elit bener! Biasa santri sini mah mentok-mentok ngerokok tingwe (linting dewe) rasa cengkeh sisa dapur.”
Abah Ali: “Alhamdulillah… ada rezeki sedikit.”
Kang Qowim: “Enak jadi pengurus ya, banyak sisaan makanan dari ndalem (rumah Kiai). Ngomong-ngomong, untung malam ini gelap. Coba kalau terang, bisa gawat kita ketahuan ngerokok di teras masjid.”
Abah Ali: “Emangnya kenapa kalau ketahuan?”
Kang Qowim: “Ya ampun, Kang! Ente baru mondok apa gimana? Kalau ketahuan keamanan, masih mending. Lah kalau ketahuan langsung sama Pak Yai, si Abah Ali? Habis kita! Tahu sendiri kan Abah Ali kalau ngasih takzir (hukuman) nggak ada ampun. Disuruh nguras bak mandi se-pondok pake sikat gigi bisa-bisa!”
Abah Ali: (Mendehem pelan) “Hmm… masa sih Abah Ali sekejam itu?”
Kang Qowim: “Bukan kejam, Kang, tapi disiplinnya itu lho, bikin dengkul lemes! Mana suaranya ngebass bener, kumisnya tebel. Kalau beliau udah jalan sambil batuk… ehem!… wah, santri yang lagi tidur aja bisa langsung bangun pura-pura ngaji. Tapi ya gitu, berkahnya gede mondok di sini. Eh, ngomong-ngomong, ente namanya siapa, Kang? Besok-besok ane mau ngutang rokok ke ente dah.”
Abah Ali: “Nama saya… Ali.”
Kang Qowim: (Tertawa renyah sambil memukul paha Abah Ali) “Bwahahaha! Ali? Wah, kebetulan banget! Namanya sama persis kayak Abah Yai kita! Hati-hati kualat lho, Kang, pake nama Kiai.”
Abah Ali: (Mengambil kembali rokoknya, suaranya tiba-tiba berwibawa khas Kiai) “Iya, memang kebetulan… Soalnya yang punya pondok ini memang saya, Qowim.”
(Tiba-tiba listrik menyala. Lampu teras masjid benderang menerangi keduanya. Wajah Abah Ali yang tenang dengan kumis tebalnya menatap lurus ke arah Qowim.)
(Qowim menoleh pelan-pelan. Matanya melotot maksimal. Rokok di mulutnya jatuh ke pangkuan.)
Kang Qowim: (Pucat pasi, bibirnya gemetar) “A… A… Abah?!”
Abah Ali: (Tersenyum simpul) “Gimana, Qowim? Rokok Dji Sam Soe-nya enak?”
Kang Qowim: “A-a-anu, Bah… A-ampun, Bah… Sa-saya kira tadi…”
Abah Ali: “Nggak apa-apa, santai saja. Nanti habis Subuh, santai-santai juga ya bawa sikat gigi ke kamar mandi putra. Kuras semua baknya sampai bersih. Sekalian kamar mandi putri, jangan lupa.”
Kang Qowim: (Sujud syukur secara refleks tapi panik) “N-nggih, Bah! Siap, Bah! Assalamualaikum!”
(Qowim langsung melompat dan lari terbirit-birit saking paniknya. Sarungnya melorot sebelah, dan ia meninggalkan sebelah sandal jepitnya di teras masjid.)
Abah Ali: (Menggeleng-gelengkan kepala sambil memungut sandal Qowim) “Wa’alaikumsalam… Dasar santri, sandal ditinggal satu, rokoknya malah dibawa kabur.”
(Abah Ali tertawa pelan sambil kembali menghisap rokoknya.)
Untung Kulo mbten ngrokok hihihi
Kyk kisahku biyen… Belajar rokoan nek toilet….
ð§âðĶē:sambil jongkok nikmati rokok..tiba2 ada yg ngetok pintu….
ð§:Ono wong pora….
ð§âðĶē: Ok Ono…..kaget … Kyk kenal suarane….cepet2 lari. Dan buang rokok.. namanya juga lagi latihan rokok…
ð§:aku mau weroh cah udud sopo ya.. Ra Patek kenal
ð§âðĶē:mboh.. g Reti…
ð§..cah cilik zaman Saiki do udud… Rung ISO golek duit….
ð§âðĶē.. ya Allah lindungi hambamu… Mugo2 Ra konangan…amin..
https://shorturl.fm/OwLMH