BIOGRAFI K MARKIBIN KEDUNGGEMPOL

Mbah K Markibin merupakan imam pertama dan pendiri masjid Baitul Muttaqin kedunggempol Tanggungharjo Grobogan. Beliau lahir di Desa Karangsono, Kecamatan Mranggen , Kabupaten Demak. Ayah beliau Bernama Sarnawi berasal dari kedunggempol dan berumah tangga di Karangsono Mranggen demak. Sejak kecil gemar mengaji dan ingin sekali melanjutkan Pendidikan di pesantren. Namun karena keterbatasan biaya, Markibin kecil hanya diberi uang saku sekali untuk berangkat ke pondok dengan menjual kerbau pamannya. Akhirnya mondok di pesantren Paculgowang Jombang. Karena uang saku yang dibawa sudah habis Markibin kecil berusaha dengan bekerja dirumah penduduk sekitar untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.  Mbah Markibin juga pernah nyantri di Tebu Ireng Jombang asuhan Hadrotussyaikh Hasyim Asy’ari.

              Sepulang dari pondok Mbah Markibin dijodohkan dengan Masikah Binti KH. Sidiq dari Paras Padang Kecamatan Tanggungharjo. Setelah menikah Mbah Markibin diminta untuk menjadi imam di desa Pongangan Gunungpati Semarang yang semua sudah tersedia Masjid dan rumah untuk keluarga Kiyai. Namun oleh ayah mertua beliau (Mbah KH Sidiq) dinasehati agar tidak menjadi kiyai “pitik” ( Kiyai Ayam ) yang maknanya Ketika disenangi akan diberi berbagai fasilitas, namun Ketika sudah tidak disenangi akan diusir. Mbah KH Sidiq menyarankan untuk Kembali ke daerah asal ayah belaiu ( Mbah Sarnawi ) yakni di Kedunggempol Tanggungharjo yang sebenarnya belum memiliki masjid untuk menyebarkan agama Islam.

Hal ini juga diperkuat dengan permintaan paman Mbah Markibin yaitu Mbah Pasimin untuk dapat mensyiarkan agama Islam di wilayah Kedunggempol. Akhirnya Mbah Markibin menepati permintaan mertua dan pamannya untuk menyebarkan agama di wilayah Kedunggempol Tanggungharjo dan sudah disediakan Tanah wakaf dari simbah Matahar yang sebenarnya juga masih saudara mbah Markibin. Dari tanah wakaf yang ada Mbah Markibin mendirikan musholla dan menempati rumah di sebelah musholla. Santri yang datang untuk mengaji datang dari berbagai wilayah sekitar bahkan ada santri yang mukim namun belum tersedia pondok untuk menginap. Santri yang mukim hanya tidur di musholla.

Warga Kedunggempol yang terkenal cukup keras dihadapi dengan lembut dan santun hal ini menyebabkan penyebaran agama Islam cukup masif. Pernah suatu Ketika ada warga yang tidak setuju dengan Keputusan beliau sambil marah dan membawa senjata tajam namun dengan ketenangan beliau dapat diselesaikan dengan cara damai. Dengan berbagai usaha akhirnya musholla yang ada dipugar dan dijadikan masjid dan diberinama Baitul Muttaqin.

Dari penuturan para sesepuh bahkan Ketika mendirikan masjid mbah Markibin memindahkan makhluk halus yang menempati tempat yang akan didirikan masjid ke wilayah sebelah Selatan desa. Mbah Markibin juga diriwayatkan pernah menjadi pasukan Hisbullah yang berjuang melawan penjajah.

Dari pernikahan beliau dikaruniai 6 putra putri yang hidup yaitu Zulaikah, Hamami, Nahrowi, Anshori, Rohmah dan Umi Kultsum dan 2 meninggal yaitu Asmuni dan Abidah. Beliau meninggal pada tahun 1983 dan dimakamkan di makam umum Kedunggempol. Perjuangan beliau dilanjutkan oleh ptra beliau yang Bernama Anshori.

(Ditulis oleh M. Arif Affandi, S.Pd, Cucu dari simbah K. Markibin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *